Notification

×

Iklan

Iklan

Klarifikasi Tudingan Sumbangan Paksa Dari SMKN 5 Banjarmasin

Senin, 15 Desember 2025 | Desember 15, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-12-15T07:11:51Z


Kepela Sekolah  SMKN5 Dengan etua Komite SMKN5

Poto : Peoplenews. Id 

Banjarmasin, Peoplenews. Id — Sehubungan dengan pemberitaan di salah satu media online yang menyebutkan adanya keberatan dari salah satu orang tua siswa terkait sumbangan sukarela di SMKN 5 Banjarmasin, Kepala SMKN 5 Banjarmasin, Dr. Drs. H. Syahrir, MM memberikan klarifikasi lengkap melalui wawancara khusus bersama beliau. Senin (15/12)

Dalam wawancara tersebut, Dr. Syahrir menyampaikan bahwa pemberitaan yang beredar sangat disayangkan karena berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Beliau menegaskan bahwa kemungkinan orang tua yang menyampaikan keluhan tersebut datang terlambat ke dalam rapat orang tua/wali murid, sehingga tidak menerima informasi secara utuh dan menyeluruh.“

Setiap tahun kami mengadakan pertemuan dengan orang tua/wali siswa SMKN 5 Banjarmasin. Dalam rapat tersebut, kami menyampaikan perkembangan prestasi siswa, proses pembelajaran, kesiapan menghadapi Praktek Kerja Lapangan (PKL), serta pembinaan karakter siswa. Ini adalah bentuk transparansi sekolah kepada orang tua,” ungkap Dr. Syahrir.

Dalam rapat tersebut, hadir pula Ketua Komite Sekolah, Husaeni, yang menyampaikan hasil-hasil positif dari partisipasi orang tua siswa dalam bentuk sumbangan sukarela. Salah satu contohnya adalah pembangunan Musholla di lingkungan sekolah, yang sepenuhnya dibangun dari dana sumbangan sukarela para orang tua/wali siswa.

Dana BOS dari pemerintah pusat maupun BOSDA dari pemerintah daerah tidak diperbolehkan digunakan untuk membangun gedung baru, hanya boleh untuk renovasi sesuai juknis. Oleh karena itu, Musholla yang kami miliki ini benar-benar murni hasil gotong royong dan kepedulian para orang tua siswa,” jelas Husaeni dalam pertemuan tersebut.

SMKN 5 Banjarmasin yang saat ini memiliki lebih dari 2000 siswa, menerapkan program sholat Dzuhur dan Ashar berjamaah sebelum siswa pulang. Musholla yang kini sudah dapat digunakan tersebut adalah fasilitas penting yang mendukung pembentukan karakter religius siswa.

Menanggapi tudingan bahwa sumbangan bersifat memaksa, Dr. Syahrir menegaskan bahwa tudingan tersebut sangat tidak berdasar. “Ini murni sumbangan sukarela. Tidak ada paksaan, tidak ada intimidasi, tidak ada sanksi. Bahkan, ada orang tua yang menyumbang hanya Rp20.000,- dan ada pula yang tidak menyumbang sama sekali. Itu tidak menjadi masalah namanya juga sukarela boleh menyumbang dan boleh tidak,” tegasnya.

Beliau juga menambahkan bahwa kesalahpahaman ini kemungkinan besar karena informasi yang diterima tidak lengkap. “Mungkin orang tua tersebut tidak mengikuti rapat secara menyeluruh atau tidak menyimak dengan baik, sehingga muncul persepsi yang keliru.

”Dr. Syahrir pun menyoroti narasi dalam pemberitaan media online yang menyebutkan bahwa orang tua merasa tertekan. “Saya rasa ini adalah narasi yang dilebih-lebihkan. Bagaimana bisa seseorang dikatakan tertekan atas sumbangan yang bersifat sukarela? Bahkan untuk menyatakan seseorang mengalami tekanan, perlu alat ukur psikologis yang valid, bukan sekadar asumsi”.

Sebagai akademisi yang pernah menempuh studi di Universitas Magdeburg, Jerman, dan menyelesaikan program doktoralnya dengan disertasi tentang Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah, Dr. Syahrir menyampaikan bahwa aturan tersebut justru memberikan ruang bagi masyarakat/orang tua siswa untuk berpartisipasi dalam mendukung pendidikan, sepanjang partisipasi tersebut tidak dalam bentuk pungutan wajib.

Permendikbud 75 Tahun 2016 dengan tegas mengatur bahwa partisipasi masyarakat diperbolehkan sepanjang bersifat sukarela. Tidak boleh ada unsur mengikat atau penetapan jumlah tertentu. Komite sekolah kami telah menjalankan aturan ini dengan sangat baik dan penuh kehati-hatian,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dr. Syahrir menyampaikan bahwa program komite sekolah tahun ini, setelah melalui koordinasi dengan pihak sekolah, adalah untuk menyelesaikan pembangunan lantai dua ruang kelas yang sudah empat tahun belum bisa digunakan karena belum dipasangi keramik, plafon, dan pendingin ruangan. Jika dana sumbangan sukarela mencukupi, ruang tersebut akan difungsikan untuk kegiatan belajar-mengajar.

Sekolah pun telah berulang kali mengajukan usulan bantuan pembangunan ke pemerintah pusat dan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan, namun hingga kini belum terealisasi. “Kami sangat memahami bahwa anggaran pemerintah terbatas dan harus dibagi ke banyak sekolah lain. Oleh sebab itu, kami mencoba melibatkan partisipasi sukarela dari masyarakat tanpa paksaan,” ujarnya.

Menanggapi narasi bahwa ada orang tua siswa yang merasa keberatan, Dr. Syahrir menyatakan bahwa tidak bisa serta merta satu suara dijadikan representasi keseluruhan orang tua siswa. “Tidak bisa mengeneralisasi. Tidak adil jika hanya karena satu atau dua orang merasa kurang nyaman, lalu disebut bahwa semua orang tua siswa keberatan. Ini adalah narasi yang tidak bertanggung jawab.” dan bisa menjadi persoalan hukum jika diadukan kepihak yang berwajib sebagai pencemaran nama baik bagi sebagian besar orangtua siswa yang secara sukarela mau menyumbang, kemudian ada satu dua orang yang mengatas namakan dirinya sebagai orangtua yang tertekan, dan perlu diingat bahwa jumlah orangtua siswa lebih 2000 orang.

Sebagai kepala sekolah yang juga aktif dalam kajian kebijakan publik, Dr. Syahrir menekankan bahwa seluruh kebijakan dan program sekolah dirancang sesuai dengan peraturan yang berlaku dan bertujuan untuk kebaikan serta kemajuan siswa.“

Saya memahami betul regulasi yang berlaku karena latar belakang akademis saya di bidang kebijakan publik. Sekolah tidak akan pernah memaksakan kehendak kepada orang tua. Kami hanya mengajak, mengundang partisipasi dalam semangat gotong royong,” tegasnya.

Di akhir wawancara, Dr. Syahrir menyampaikan harapannya agar media dapat lebih cermat dalam menyajikan informasi, terutama yang menyangkut dunia pendidikan. Ia mengajak semua pihak untuk tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang tidak lengkap atau disampaikan secara sepihak.“

Kami sangat terbuka terhadap kritik dan saran. Namun, mari kita bersama-sama membangun ekosistem pendidikan yang sehat dan positif. Jangan sampai informasi yang tidak utuh merusak semangat kebersamaan yang sudah terbangun selama ini,” pungkasnya.



Ebi

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update