Notification

×

Iklan

Iklan

Alfirah YES - Iowa Ramadan Jauh dari Rumah, Dekat dengan Makna

Rabu, 25 Maret 2026 | Maret 25, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-25T12:17:57Z


Cerita Lebaran Alfirah Yang Jauh Dari Sanak Suadara


Poto : Peoplenews



TALA, Peoplenews. Id - Halo, nama saya Alfirah. Saya adalah salah satu siswa dari Indonesia yang mengikuti program pertukaran pelajar Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (KL-YES) Program, yang disponsori oleh U.S. Department of State. Saya berasal dari Banjarmasin dan bersekolah di MAN Insan Cendekia Tanah Laut. Saya lahir pada 2 Maret 2008, dan sejak Juli 2025 saya telah tinggal di Amerika Serikat. Artinya, sudah sekitar delapan bulan saya berada di sini.

Saya mendapatkan penempatan di negara bagian Iowa, tepatnya di kota Mason City. Saya tinggal bersama host family di sebuah rumah dan bersekolah di Mason City High School. Setiap hari saya berangkat sekolah menggunakan bus selama kurang lebih 15 menit, dan halte bus berada sangat dekat dari rumah sehingga saya tidak perlu berjalan jauh. 

Tinggal bersama host family menjadi pengalaman yang sangat berharga. Ibu asuh saya berasal dari Taiwan dan ayah asuh saya adalah warga asli Amerika, sehingga di rumah kami memiliki latar belakang budaya yang beragam. Saya juga merasa tidak terlalu homesick karena ibu asuh saya sering memasak makanan yang mirip dengan makanan Indonesia, terutama karena kami sama-sama menjadikan nasi sebagai makanan pokok.

Selama Ramadan di Mason City, durasi puasa berlangsung sekitar 15 hingga 16 jam per hari, tergantung waktu matahari terbit (Subuh) dan terbenam (Maghrib). Untuk mengetahui jadwal sahur

dan berbuka, saya mendapatkan informasi dari teman sesama siswa pertukaran di Iowa, serta menggunakan aplikasi Muslim Pro yang sangat membantu untuk mengetahui jadwal salat dan waktu puasa. Saat ini Amerika sedang berada di akhir musim dingin menuju awal musim semi. Hari-hari mulai terasa lebih hangat dan durasi siang semakin panjang. Karena itu, dari awal hingga akhir Ramadan, waktu puasa menjadi sedikit lebih panjang. 

Untuk makanan, saya tidak pernah merasa khawatir karena ibu asuh saya selalu memasak dan bahkan menyimpan makanan untuk sahur agar saya tinggal memanaskannya. Terkadang saya juga memasak makanan khas Indonesia dan memperkenalkannya kepada keluarga asuh saya. Di kota saya cukup mudah menemukan makanan halal, dan hal ini sangat membantu saya menjalani Ramadan dengan tenang.

Sebagai seorang Muslim yang tinggal di Amerika, pengalaman ini sangat berkesan. Pada hari pertama sekolah dengan mengenakan hijab, banyak siswa yang penasaran dan bertanya tentang asal saya serta budaya di Indonesia. Di sekolah saya, setahu saya hanya ada sekitar empat siswa Muslim yang juga berpuasa. Host family, guru, dan teman-teman saya sangat menghormati saya yang sedang berpuasa. Ada yang awalnya mengira puasa berarti tidak makan dan minum selama satu bulan penuh, dan saya dengan senang hati menjelaskan makna puasa yang sebenarnya. Di Mason City juga terdapat masjid dan komunitas Muslim yang aktif. Mereka mengadakan potluck setiap hari Minggu untuk

Berpuasa di Amerika tentu berbeda dengan di Indonesia. Jumlah Muslim yang sedikit membuat suasana Ramadan tidak seramai di tanah air. Tantangan terbesar bagi saya adalah sahur sendirian dan tetap mengikuti kegiatan sekolah serta olahraga saat berpuasa. Namun, pelatih saya memahami kondisi tersebut sehingga saya tidak selalu mengikuti latihan penuh. Meski berbeda, pengalaman berpuasa di Amerika membuat saya lebih mandiri, disiplin, dan menghargai keberagaman. Bagi saya, Ramadan adalah waktu untuk memperbaiki diri, meningkatkan kesabaran, serta lebih mendekatkan diri kepada Allah. Ramadan juga mengajarkan saya untuk lebih peduli dan bersyukur. Pengalaman Ramadan di Amerika sangat berkesan bagi saya. Saya merindukan kebersamaan berbuka dengan keluarga di Indonesia, tetapi saya juga bersyukur dapat merasakan Ramadhan dalam suasana yang berbeda dan belajar banyak dari pengalaman ini


Ebi

TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update