Banjarmasin, Peoplenews. Id - IHSG babak belur minus 17,59% sepanjang 2026. Dana asing cabut Rp64,3 triliun karena konflik Israel-AS vs Iran dan rupiah melemah ke Rp17.200. Tapi ritel malah makin kuat: 26,12 juta investor, 56,4% transaksi dari ritel, 58% umur di bawah 30 tahun. Masalahnya, literasi baru 17,78%. Banyak yang trading tapi belum paham risiko. senin (29/4)
Untuk itu, BEI luncurkan reformasi besar 2026-2029. Pertama, bersih-bersih bursa*. Mulai 2027, emiten besar wajib _free float_ 15%. Yang di bawah 15% kena sanksi sampai _delisting_. Mulai 1 Mei 2026, nama pemegang saham di atas 1% dibuka ke publik lewat LBRE bulanan. Per 31 Maret 2026, BEI juga rilis _High Shareholder Concentration List_ buat tandain saham rawan gorengan. Tujuannya: asing balik, ritel aman.
Kedua, luncurkan ETF Emas Q2 2026. Saat IHSG jatuh, emas justru naik 67% di 2025. ETF Emas ini _physical backed_, emasnya disimpan BSI dan Pegadaian, standar LBMA. Bisa dibeli mulai 0,01 gram atau sekitar Rp18 ribu. Sudah syariah, ada fatwa MUI. Harga ngikutin emas dunia, gak bisa dimanipulasi karena ada mekanisme _creation-redemption_. Lebih dari 10 Manajer Investasi siap terbitkan. Ini jadi _safe haven_ buat 26 juta ritel sekaligus serap 132,5 ton produksi emas RI per tahun.
Ketiga, BEI genjot IDXCarbon. Bursa karbon RI sudah transaksi 1,97 juta ton CO2 senilai Rp93,7 miliar sejak 2023. Pesertanya naik 856% jadi 153 entitas. Kredit karbon dipakai buat _offset_ emisi pernikahan, penerbangan, sampai CSR. Saat saham lesu, bursa tetap dapat _fee_ dari karbon dan emas.
Lalu sektor apa yang masih cuan di 2026?Dari 6 sekuritas yang hadir, ada 3 jawara. Transportation & Logistic paling kuat, naik 15,12% YTD saat IHSG minus 17,59%. Didukung NLE dan hilirisasi nikel Kalimantan. Valuasinya murah. Basic Material juga direkomendasi _overweight_ karena hilirisasi nikel dan harga emas tinggi. Saham seperti ANTM dan INCO diuntungkan. Consumer Non-Cyclical jadi paling defensif karena Program Makan Bergizi Gratis dan inflasi 3,49%. ICBP, MYOR, JPFA tetap laku.
Sektor lain berat. Finance netral karena BI Rate 4,75% bikin biaya dana mahal, hanya BBCA dan BMRI yang kuat. Properti dan Consumer Cyclical tertekan daya beli. Teknologi volatil parah, rawan _sell-off_ kalau geopolitik memanas. Industrial dan Health disarankan _wait and see_.
Kesimpulan buat ritel Banjarmasin : 2026 tahun transisi. Yang selamat pegang 3 hal: ETF Emas buat lindung nilai, saham logistik yang naik 15%, dan consumer non-cyclical. Hindari saham _free float_ kecil, cek LBRE bulanan, dan jangan beli saham masuk _High Shareholder Concentration List_. BEI sedang ubah bursa dari sarang gorengan jadi bursa transparan, ada emas, ada karbon. Kalau sukses, 2027-2029 dana asing dan dana pensiun Rp400 T bisa masuk lagi.
Ebi




