Syukuran kE 11 Grup Campusari KWS
Poto : Peoplenews. Id
Marabahan, Peoplenews. Id — Grup campursari KWS Nada menggelar acara syukuran ke-11 sekaligus peresmian Studio KWS Nada, sebagai bentuk rasa syukur atas perjalanan panjang komunitas seni tersebut dalam menjaga dan mengembangkan hiburan tradisional di tengah masyarakat. Minggu (8/2)
Acara yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan itu menjadi momentum penting bagi KWS Nada, yang selama lebih dari satu dekade konsisten menghadirkan hiburan musik campursari khas Jawa, khususnya aliran Sragenan, di tengah dominasi budaya Banjar.
Sudarno, selaku narasumber dan tokoh penting dalam perjalanan KWS Nada, menjelaskan bahwa kehadiran grup ini sejak awal memang ditujukan sebagai hiburan rakyat lintas budaya.
“Sudah banyak, bahkan orang Banjar pun ikut suka. Walaupun ini hiburan dari Jawa, masyarakat Banjar menerima dengan baik,” ujar Sudarno.
Menurutnya, KWS Nada aktif melibatkan sejumlah sinden dalam setiap penampilan. Bahkan dalam beberapa kesempatan, grup ini mengaktifkan hingga empat sinden sekaligus. Menariknya, tidak semua personel berlatar belakang Jawa murni.
“Ada yang bisa nyanyi Jawa, ada juga yang darah Jawa, ada pula yang murni Banjar. Itu tidak jadi masalah, yang penting hiburan ini bisa dinikmati bersama,” katanya.
Sudarno menegaskan bahwa ciri khas KWS Nada adalah mengusung campursari Sragenan, yang hingga kini masih diminati masyarakat karena nuansa hiburan rakyatnya yang kuat dan komunikatif.
Dalam perjalanannya, KWS Nada telah mengalami pergantian kepemimpinan hingga dua kali. Namun soliditas internal tetap terjaga.
“Walaupun kadang ada campur tangan, pada akhirnya tetap berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan yang sama. Anggota semakin banyak dan semakin disenangi masyarakat,” ungkapnya.
Ia juga menyebut bahwa KWS Nada terbuka untuk semua kalangan masyarakat yang ingin bergabung, tanpa memandang latar belakang suku maupun daerah.
“Siapa saja boleh bergabung, yang penting mengikuti aturan dan visi misi kita yang bersifat sosial,” jelas Sudarno.
Terkait rencana ke depan, KWS Nada sebenarnya telah memiliki keinginan untuk merambah ke platform digital, khususnya YouTube, guna memperluas jangkauan penonton dan memperkenalkan campursari kepada generasi muda.
“Sebenarnya keinginan ke YouTube itu sudah ada, bahkan tahun kemarin sudah masuk. Tapi kendalanya biaya,” katanya.
Meski demikian, Sudarno mengungkapkan bahwa kanal YouTube KWS Nada sebenarnya telah berjalan cukup lama dan bahkan sudah memasuki tahap monetisasi, meski belum dikelola secara maksimal.
Dengan diresmikannya Studio KWS Nada, diharapkan menjadi titik awal kebangkitan baru bagi komunitas ini, baik dalam pengembangan kualitas produksi musik maupun perluasan eksistensi di dunia digital.
KWS Nada menegaskan komitmennya untuk terus menjadi wadah seni dan hiburan rakyat yang inklusif, menjaga tradisi, sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Ebi




