Notification

×

Iklan

Iklan

HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia: Transformasi Berkelanjutan Perkuat Kepercayaan dan Ketahanan Pasar

Selasa, 11 Agustus 2026 | Agustus 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-08-11T15:00:35Z

Hut ke 49 Pasar Modal

Poto : Istimewa





JAKARTA, Peoplenews. Id Memasuki usia ke-49 sejak kembali diaktifkan pada 1977, pasar modal Indonesia terus bertransformasi untuk memperkuat kualitas, integritas, efisiensi, serta daya saing di tengah dinamika ekonomi dan pasar keuangan global.

Momentum tersebut ditandai dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-49 Pasar Modal Indonesia yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO), yakni PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Senin (10/8).

Mengusung tema “Transformasi Berkelanjutan untuk Pasar Modal Tepercaya dan Tangguh”, rangkaian kegiatan diawali dengan seremoni pembukaan perdagangan di Main Hall BEI dan dilanjutkan konferensi pers OJK bersama SRO.

Sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan turut hadir, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica W. Dewi, Wakil Menteri Keuangan RI Juda Agung, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahir, jajaran direksi dan komisaris SRO, serta perwakilan asosiasi dan industri manajemen investasi.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, momentum HUT ke-49 menjadi kesempatan penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian dan pasar keuangan Indonesia.

“Peringatan ini menjadi momentum untuk menjaga kepercayaan para investor terhadap perekonomian dan pasar keuangan internasional dan nasional karena pasar modal selalu merupakan proxy ekonomi yang dilihat oleh para investor, terutama pada saat-saat yang strategis,” ujar Airlangga.
Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyebut pasar modal memiliki peran strategis sebagai katalis pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah, katanya, akan terus memperkuat sinergi dengan OJK, BEI, pelaku industri, serta seluruh pemangku kepentingan untuk membangun pasar keuangan yang semakin dalam, inklusif, inovatif, namun tetap prudent dan kredibel.

ETF Emas Jadi Tonggak Baru
Salah satu momentum penting dalam peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia adalah peluncuran perdana Exchange Traded Fund (ETF) Emas di pasar modal Indonesia.

Sebanyak lima produk ETF Emas resmi tercatat di Bursa dan diterbitkan oleh lima manajer investasi. Produk tersebut meliputi XGLD dari PT Indo Premier Investment Management, XTRA dari PT Trimegah Asset Management, XMES dari PT Mandiri Manajemen Investasi, XDES dari PT BRI Manajemen Investasi, serta XSGO dari PT Syailendra Capital.

Kehadiran ETF Emas memberikan alternatif baru bagi investor untuk memperoleh eksposur terhadap emas melalui instrumen yang diperdagangkan di Bursa tanpa harus memiliki emas secara fisik.

Produk tersebut juga diharapkan memperluas pilihan diversifikasi portofolio, memperkuat pengelolaan risiko, meningkatkan akses investor ritel dan institusi, sekaligus memperluas basis investor dan aktivitas industri ETF.

Peluncuran ETF Emas juga dinilai dapat memperkuat sinergi antara pasar modal dengan pengembangan ekosistem bullion nasional.

Pasar Modal Tetap Tumbuh di Tengah Volatilitas
Di tengah tekanan ekonomi global dan domestik, pasar modal Indonesia tetap menunjukkan sejumlah indikator pertumbuhan.

Pada perdagangan Jumat (7/8/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.409,65. Sepanjang 2026, IHSG tercatat sembilan kali mencetak rekor all-time high (ATH) pada Januari dan sempat mencapai level tertinggi 9.134,70 pada 20 Januari 2026.
Kapitalisasi pasar juga mencatat rekor tertinggi Rp16.640 triliun pada 19 Januari 2026. Sementara frekuensi transaksi saham tertinggi mencapai 5,01 juta transaksi pada 12 Januari 2026.

Hingga Juni 2026, pasar modal Indonesia berada di posisi ke-18 berdasarkan rata-rata nilai transaksi 
harian (RNTH) dan posisi ke-20 berdasarkan kapitalisasi pasar dibandingkan negara-negara lain.
Sampai 7 Agustus 2026, RNTH tercatat Rp22,3 triliun. Nilai transaksi nonsaham mencapai Rp7,4 triliun, sementara transaksi karbon tercatat Rp6,9 miliar. Adapun rata-rata volume transaksi obligasi melalui Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) mencapai Rp5,7 triliun hingga 31 Juli 2026.

Dari sisi penghimpunan dana, sebanyak tujuh saham baru telah tercatat di Bursa, termasuk satu Lighthouse IPO. Dengan demikian, jumlah perusahaan tercatat saham mencapai 962 perusahaan dan menempatkan Indonesia di posisi kedua ASEAN dari sisi jumlah perusahaan tercatat.

Total dana yang dihimpun melalui pasar modal mencapai Rp122,8 triliun. Angka tersebut terdiri dari IPO saham Rp2,2 triliun, Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) Rp104,1 triliun, serta HMETD dan Waran Rp16,5 triliun.

Jumlah Investor Tembus 30,3 Juta
Pertumbuhan signifikan juga terlihat dari jumlah investor.
Hingga 7 Agustus 2026, jumlah investor pasar modal yang mencakup investor saham, obligasi, dan reksa dana mencapai 30,3 juta investor.

Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sekitar 9,9 juta investor dan menjadi pertumbuhan tertinggi sepanjang sejarah pasar modal Indonesia. Sekitar 1,4 juta investor aktif melakukan transaksi setiap bulan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica W. Dewi menilai pertumbuhan investor bukan sekadar persoalan angka, tetapi mencerminkan kepercayaan dan harapan masyarakat terhadap pasar modal Indonesia.

“Pertumbuhan investor di Indonesia ini tidak hanya sekadar angka, tapi menunjukkan adanya trust, confidence, dan harapan masyarakat Indonesia terhadap pasar modal Indonesia,” ujarnya.
BEI Dorong Integritas dan Daya Saing

Sepanjang semester pertama 2026, BEI bersama SRO, dengan dukungan OJK dan seluruh pemangku kepentingan, terus menjalankan agenda reformasi untuk meningkatkan transparansi, likuiditas, tata kelola, serta daya saing pasar modal Indonesia.

Empat agenda reformasi telah diselesaikan pada Maret-April 2026, yakni publikasi data kepemilikan saham di atas 1 persen, revisi kebijakan free float, perluasan klasifikasi tipe investor menjadi 39 kategori, serta implementasi High Shareholding Concentration (HSC).

BEI juga menyempurnakan metodologi HSC yang berlaku efektif 14 Juli 2026 melalui penambahan kriteria price impact ratio bagi saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun.

Selain itu, BEI menyempurnakan Peraturan Bursa Nomor I-A yang berlaku sejak 31 Maret 2026, termasuk persyaratan sertifikasi kompetensi akuntansi bagi pihak penyusun laporan keuangan emiten serta kewajiban pendidikan berkelanjutan mengenai tata kelola perusahaan bagi direksi, komisaris dan komite audit.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan, transformasi dan reformasi akan terus dilakukan secara berkelanjutan.

“BEI terus menunjukkan usaha dalam memperkuat integritas, transparansi, dan daya saing pasar modal guna mewujudkan pasar modal Indonesia yang semakin tepercaya dan tangguh serta berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.

BEI juga menetapkan visi “BEI 2030: Menuju Bursa Kelas Dunia untuk Manfaat Sebesar-besarnya bagi Rakyat Indonesia”, dengan fokus pada penguatan daya saing, perluasan akses investasi, transformasi digital, konektivitas global, serta pengembangan ekosistem pasar modal yang inklusif dan inovatif.
KPEI Perkuat Efisiensi Kliring

Dari sisi kliring dan penjaminan transaksi, KPEI terus meningkatkan efisiensi penyelesaian transaksi sekaligus memperkuat manajemen risiko.

Hingga akhir Juli 2026, rata-rata nilai penyelesaian melalui mekanisme kliring secara netting mencapai Rp6,65 triliun atau meningkat sekitar 48 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Efisiensi nilai penyelesaian transaksi harian juga meningkat dari 61,81 persen menjadi 65,43 persen.
KPEI mulai menerapkan Mekanisme Penyelesaian Transaksi Level Anggota Kliring sejak 15 Juni 2026. Sejak implementasi tersebut, rata-rata efisiensi instruksi penyelesaian meningkat 96 persen dan efisiensi waktu penyelesaian meningkat 86 persen.

Untuk layanan Pinjam Meminjam Efek (PME), total transaksi hingga akhir Juli 2026 mencapai Rp109,24 miliar, meningkat 269 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Direktur Utama KPEI Antonius Herman Azwar mengatakan KPEI diarahkan menjadi salah satu pilar utama pasar keuangan Indonesia dengan mengadopsi standar global.

“KPEI sebagai CCP akan bertransformasi dari Clearing Provider menjadi Central Clearing, Risk Management dan Collateral Management Hub yang mengintegrasikan pasar keuangan domestik, regional, dan global,” ujarnya.

Transformasi tersebut akan didukung lima program strategis hingga 2030, mulai dari pengembangan produk dan layanan baru, penguatan konektivitas antarpasar, peningkatan standar internasional, pengembangan produk, hingga penguatan teknologi dan ketahanan sistem.
KSEI Perkuat Infrastruktur dan Keamanan

Sementara itu, KSEI terus memperkuat perannya sebagai Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian (LPP) melalui inovasi infrastruktur dan layanan.

Data KSEI menunjukkan jumlah Single Investor Identification (SID) meningkat 49 persen, dari 20,35 juta pada 2025 menjadi 30,3 juta investor per 7 Agustus 2026.

Jumlah tersebut terdiri atas investor saham dan surat berharga lainnya sebanyak 10,05 juta, investor reksa dana 29,02 juta, serta investor Surat Berharga Negara (SBN) sebanyak 1,58 juta.

Dalam mendukung peluncuran ETF Emas, KSEI sebelumnya menandatangani kerja sama dengan PT Pegadaian pada 12 Juni 2026. KSEI juga telah menerbitkan International Securities Identification Number (ISIN) untuk Emas yang menjadi aset dasar produk ETF Emas pada 4 Agustus 2026.

KSEI juga menyiapkan pembaruan sistem C-BEST dan S-INVEST guna meningkatkan kapasitas serta mendukung perkembangan industri pasar modal.

Selain itu, KSEI tengah mengkaji kesiapan untuk bertindak sebagai Local Operating Unit (LOU) di Indonesia dalam penerbitan dan pengelolaan Legal Entity Identifier (LEI).

Pengembangan konektivitas dengan International Central Securities Depository (ICSD) juga dilakukan untuk memperluas akses investor global terhadap produk investasi di Indonesia.

Direktur Utama KSEI Samsul Hidayat mengatakan berbagai langkah strategis tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas, integritas, dan daya saing pasar modal Indonesia.

“Berbagai langkah tersebut diharapkan dapat terus meningkatkan kepercayaan investor, baik domestik maupun global, untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia,” ujarnya.

Peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia menunjukkan bahwa transformasi sektor pasar modal tidak hanya berorientasi pada peningkatan aktivitas perdagangan, tetapi juga pada penguatan kualitas, integritas, efisiensi, tata kelola, dan ketahanan ekosistem.

Sinergi OJK bersama BEI, KPEI dan KSEI akan terus diarahkan untuk memperkuat integritas pasar, meningkatkan efisiensi dan manajemen risiko, memperluas akses investasi, mengembangkan produk baru, serta meningkatkan konektivitas pasar modal Indonesia dengan pasar global.

Dengan pertumbuhan investor yang mencapai 30,3 juta, penghimpunan dana Rp122,8 triliun, jumlah perusahaan tercatat mencapai 962 emiten, serta hadirnya ETF Emas sebagai instrumen investasi baru, pasar modal Indonesia memasuki usia ke-49 dengan fondasi yang semakin kuat.

Momentum tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa perjalanan pasar modal Indonesia tidak berhenti pada pencapaian hari ini, tetapi terus diarahkan menuju ekosistem investasi yang semakin tepercaya, tangguh, inklusif, inovatif, dan berdaya saing global.



Ebi
(Rilis)
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update