BANJARMASIN, Peoplenews. Id — Krisis air bersih yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Banjarmasin tidak serta-merta dirasakan seluruh pelanggan dengan kondisi yang sama. Sebagian pelanggan masih mendapatkan aliran air, sementara sebagian lainnya, termasuk saya sebagai salah satu warga terdampak, mengalami persoalan dalam memperoleh air yang layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Selasa (6/10)
Tulisan ini saya sampaikan berdasarkan pengalaman dan kondisi yang saya alami secara pribadi, bukan untuk mengatasnamakan seluruh warga atau menyimpulkan bahwa semua pelanggan PAM Bandarmasih mengalami persoalan yang sama.
Di tempat saya, persoalan air bersih menjadi cukup serius. Untuk kebutuhan mandi, mencuci dan kakus (MCK), saya terpaksa menerima aliran air yang terasa asin yang di distribusikan oleh pdam Banjarmsin. Tapi sekarang setelah adanya pendistribusina air tawar untuk kebutuhan sehari-hari saya kembali mengalami kemacetan dan kembali tidak mendapatkan pendistribusian.
"kemaren pas air asin di rumah saya mengalir dengan lancar. Walau pun asin saya maklumi kerna hanyar untuk keperluan mck. Tapi setelah ada voting dan pemberitahuan penyaluran air tawar di rumah saya kembali mengalami macet dan kembali tidak mengalir." Sebut saya
Memang terdapat distribusi air tawar melalui tandon bantuan. Namun, berdasarkan pengalaman saya, akses bantuan tersebut belum memberikan solusi bagi kebutuhan air di rumah saya.
Saya juga memahami bahwa kondisi air baku saat ini memang sedang mengalami penurunan. Supervisor NRW 1 PAM Bandarmasih sebelumnya menjelaskan bahwa dalam kondisi normal distribusi dari IPA I A. Yani berada sekitar 1.660–1.680 meter kubik per jam, ditambah pasokan sekitar 19 meter kubik per jam dari Jembatan Pangeran. Saat ini, distribusi dari IPA I A. Yani disebut hanya sekitar 1.100 meter kubik per jam.
Saya memahami bahwa PAM Bandarmasih sedang menghadapi persoalan teknis dan keterbatasan air baku.
Yang saya persoalkan adalah solusi untuk pelanggan yang terdampak secara langsung.
Ketika saya menyampaikan kondisi dan meminta bantuan air bersih, Direktur Utama PAM Bandarmasih, Zulbadi, memberikan tanggapan agar “harap maklum”, karena untuk sementara pelayanan diprioritaskan kepada warga yang terdampak.
Di sinilah saya kemudian mempertanyakan:
Kalau saya juga merupakan warga dan pelanggan PAM Bandarmasih yang mengalami dampak krisis air, apakah saya tidak termasuk warga terdampak?
Saya tidak meminta perlakuan khusus.
Saya hanya mempertanyakan bagaimana mekanisme bantuan tersebut diterapkan kepada pelanggan yang terdampak secara individual.
Sebab berdasarkan apa yang saya alami, bantuan air bersih melalui tandon di lingkungan tertentu dapat dilakukan beberapa kali dalam satu minggu. Sementara ketika saya meminta bantuan secara pribadi karena kebutuhan air di rumah, permintaan tersebut justru tidak mudah mendapatkan solusi.
Saya tidak mengatakan seluruh tandon warga mendapatkan perlakuan yang sama, dan saya juga tidak menyatakan seluruh pelanggan mengalami persoalan seperti yang saya alami.
Ini murni pengalaman saya sebagai salah satu pelanggan yang terdampak.
Karena itu, ketika saya mendapatkan jawaban “harap maklum”, bagi saya pribadi kalimat tersebut belum menjawab persoalan.
Penjelasan mengenai penurunan debit air memang penting. Penjelasan mengenai wilayah terdampak juga penting. Namun, bagi pelanggan yang airnya tidak mengalir sebagaimana mestinya, yang dibutuhkan pada akhirnya adalah bagaimana air tersebut bisa sampai ke rumah.
Terlebih, kebutuhan air di rumah bukan hanya untuk minum. Ada kebutuhan MCK, mencuci, membersihkan rumah dan berbagai aktivitas sehari-hari.
Bukan Menolak Penjelasan, Tetapi Membutuhkan Solusi
Saya menghargai penjelasan dari pihak PAM Bandarmasih mengenai kondisi distribusi saat ini.
Namun, saya tidak membutuhkan penjelasan semata.
Saya membutuhkan solusi.
Apakah pelanggan terdampak secara individual dapat mendapatkan suplai air melalui mobil tangki?
Apakah ada mekanisme permintaan khusus bagi pelanggan yang rumahnya mengalami gangguan air?
Berapa batas volume bantuan yang dapat diberikan?
Berapa lama pelanggan harus menunggu?
Dan bagaimana memastikan bantuan tersebut tidak hanya terkonsentrasi pada titik-titik tandon tertentu?
Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dijawab secara terbuka agar pelanggan terdampak mengetahui apa yang harus dilakukan ketika air tidak tersedia di rumah.
“Harap Maklum” Bukan Solusi Jangka Panjang
Saya memahami bahwa PAM Bandarmasih sedang menghadapi keterbatasan air baku dan bahwa kondisi ini bukan persoalan sederhana.
Namun, sebagai pelanggan yang membayar tagihan ketika pelayanan berjalan normal, saya juga berharap ketika terjadi kondisi darurat, terdapat mekanisme pelayanan yang jelas bagi pelanggan yang benar-benar terdampak.
Ketika pelanggan terlambat membayar, mekanisme penagihan dan penertiban pelayanan memiliki aturan yang jelas.
Maka ketika pelanggan mengalami kondisi darurat akibat krisis air, saya juga berharap ada mekanisme yang jelas mengenai bantuan air bersih.
Bukan sekadar “harap maklum”.
Sebab bagi saya pribadi, “harap maklum” tidak membuat air tawar mengalir ke rumah.
Saya tidak sedang menuntut PAM Bandarmasih memenuhi kebutuhan seluruh warga secara individual. Saya hanya meminta agar ada solusi yang dapat diakses oleh pelanggan yang memang mengalami gangguan dan masuk wilayah terdampak.
Saya juga menyadari bahwa tidak semua warga mengalami kondisi seperti saya. Sebagian pelanggan mungkin masih mendapatkan aliran air dengan kondisi relatif normal.
Karena itu, saya tidak ingin pengalaman pribadi ini digeneralisasi sebagai kondisi seluruh warga Banjarmasin.
Saya hanya menyampaikan apa yang saya alami sendiri sebagai salah satu warga sekaligus pelanggan PAM Bandarmasih yang terdampak krisis air.
Harapan saya sederhana: ketika kondisi air baku sedang krisis, jangan sampai pelanggan yang terdampak hanya mendapatkan penjelasan untuk “harap maklum”.
Penjelasan adalah bagian dari pelayanan.
Tetapi bagi pelanggan yang membutuhkan air, solusi nyata adalah air yang benar-benar sampai ke rumah.
Ebi




